MAKALAH DISKUSI
FARM VISIT
MANAJEMEN PAKAN KONSENTRAT DI BBPTU BATURRADEN
Oleh
KELOMPOK 7A
SEFTI DWI LESTARI D1E009009
ABIDIN SUGIARTO D1E009015
SITI NUR HIDAYAH D1E009029
AJI ZAMAMI D1E009066
MUHAMAD ALWI D1E009079
LAILIA MUTAMIMMAH D1E009089
Asisten
NIKMATUL ARIFAH
KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIOANAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
LABOLATORIUM PRODUKSI TERNAK PERAH
2011
BAB I
PENDAHULUAN
Upaya peningkatan produksi dan perbaikan kualitas susu dapat ditempuh melalui perbaikan mutu genetic dan manajemen pakan yang tepat. Dalam hal ini manajemen pakan memegang peranan penting karena dalam waktu relative singkat dapat diketahui efeknya terhadap produksi dan kualitas susu jika dibandingkan dengan melalui jalur pemuliaan yang membutuhkan waktu yang lebih lama (Abeni, 2000).
Sapi perah membutuhkan nutrient lebih pada saat laktasi, bukan berarti pada saat pedet, dara, bunting dan kering tidak membutuhkan nutrien, akan tetapi pada saat laktasi kebutuhan nutrient mengalami peingkatan khususnya pada awal laktasi yaitu kira-kira 3 sampai 7 kali dari saat masa kering (Hartutik,2005). Hal ini disebabkan pada saat awal laktasi, sapi membutuhkan nutrient untuk memproduksi susu, reproduksi, dan memenuhi kebutuhan hidup pokok. Apabila pakan yang diberikan tidak mencukupi kualitas maupun kuantitasnya maka untuk memenuhi kebutuhanya, sapi akan memanfaatkan persediaan zat-zat makanan yang ada didalam tubuh dengan cara memobilisasika energy yang tersimpan di dalamnya. Sebagai akibat dari proses mobilisasi tersebut, maka sapi akan menjadi kurus, kondisi demikian akan berdampak terhadap turunya kinerja produksi dan reproduksi ternak.
Keseimbangan yang mengacu kepada perbaikan suplai energy dan penurunan mobilisasi energy cadangan tubuh pada sapi perah perlu mendapat perhatian agar diperoleh kinerja produksi yang baik. Proses metabolism pakan berlangsung guuna memenuhi kebutuhan mutrien pembentuk susu secara efisien dan optimal, apabila komposisi nutrient pakan dalam keadaan seimbang terutama enrgi dan protein.
Upaya perbaikan nutrisi sapi perah, diantaranya dengan meningkatkan kualitas konsentrat yang dikonsumsi. Peningkatan kualitas pakan konsentrat dapat dilakukan dengan cara memberikan suplemen konsentrat energy dan protein yang berkualitas tinggi, sehingga diperoleh perbaikan mutu konsentrat yang diharapkan sesuai dengan kebutuhan ternak. Pemberian pakan konsentrat perlu diatur dan di kelola dengan baik karena berhubungan erat dengan produksi susu secara langsung.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pakan Konsentrat
Menurut Candra (2009) Konsentrat adalah pakan yang kaya akan sumber protein dan/ atau sumber energi , serta dapat mengandung pelengkap pakan dan /atau imbuan pakan. Pakan konsentrat dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu konsentrat sumber protein dan konsentrat sumber energy. Konsentrat sumber protein yaitu pakan konsentrat yang kandungan proteinya lebih dari 20 % dan konsentrat sumber energy adalah pakan konsentrat yang kandungan proteinya kurang dari 20 % (Hartadi, et al.,1990). Jenis dan komposisi karbohidrat pada konsentrat yang berasal dari biji-bijian berbeda dengan konsentrat yang berasal dari hasil samping pengolahan biji-bijian. Konssentrat niji-bijian banyak mengandung pati, sedangkan yang berasal dari hasil samping, banyak mengandung serat ( Tillman et al,. 1998 ). Fungsi dari pemberian konsentrat sendiri adalah sebagai prekusor pembentukan laktosa pada proses sitesa susu dan sebagai prekusor nitrogen dan ketersediaan rantai karbon guna sistesa protein mikroba yang untuk selanjutnya dimanfaatkan oleh ternak sebagai sumber protein untuk tubuhnya (Bath et al, 1985). Di Balai Besar Pembibitan ternak Unggul Baturraden, pemberian konsentrat diberikan dengan tujuan sebagai perangsang nafsu makan dan perangsang aktifitas rumen. Menurut bapak Candra dalam sesi diskusi menyampaikan bahwa pemberian konsentrat dimaksudkan untuk meningkatkan nafsu makan kembali setelah proses pemerahan pada pagi dan sore hari. Pakan konsentrat yang diberikan berupa tepung jagung, dedak, bekatul, limbah industry roti, bungkil kelapa dan pollard. Pakan-pakan yang tersebutkan diatas merupakan jenis konsentrat yang merupakan sumber protein dan sumber energy. Sesuai dengan pendapat Daryanti (2002) yang menyatakan bahwa Pakan konsentrat dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu konsentrat sumber protein dan konsentrat sumber energi.
2.2. Pengadaan Pakan Konsentrat
Menurut Candra (2009) Pengadaan bahan konsentrat di BBPTU Sapi Perah Baturraden, diatur Kepala Balai melalui Kepala Bidang Pelayanan Pembibitan , Sehingga kualitas dan kuantitas dapat maksimal . Agar dapat diperoleh hasil yang maksimal maka setiap bahan konsentrat yang masuk selalu diawasi oleh pengawas mutu pakan.
Guna mempermudah dalam pengawasan mutu pakan, maka dibuat Spesifikasi teknis mutu bahan baku pakan yaitu sebagai berikut :
1. Dedak Halus
a. Dedak yang bermutu adalah merupakan kulit padi bagian dalam yang menempel pada biji-berasal dari penyosohan beras pecah, kulit tidak rusak kerena hama dalam penyimpanan, tidak berjamur dan tidak mengandung organisme lain serta tidak dicampur dengan bahan lain.dan kondisi harus kering dan tidak menggumpal.
b. Dedak yang baik harus bewarna kuning sampai kecoklatan Warna kuning sampai kecoklatan yang merupakan warna asli
c. Dedak harus mempunyai aroma khas bekatul dan belum mengalami perubahan miasalnya berbau tengik)
d. Kemasan harus menggunakan karung goni atau kandi plastik berukuran 40–50 kg.(sesuai perjanjian) , dalam keadaan masih baik dan tidak bocor.
e. Mempunyai kandungan Gizi: Protein minimal 10 %, Serat Kasar max 14 %., Bahan Kering minimal 85 %.
2. Tepung Jagung Kuning
a. Tepung Jagung yang baik, adalah tepung halus
b. terbuat dari jagung kuning berkualitas baik tidak rusak karena hama, tidak berjamur, tidak mengandung organisme serta tidak tercemar dan tercampur bahan lain
c. Tepung jagung yang baik bewarna: kuning kekuningan
d. Beraroma khas bau jagung sehat d. Kemasan karung plastik yang masih baik karung
dibuat seragam berukuran kapasitas. Isi 40-50 kg.
e. Kandungan gizi serat kasar maksimal 5 %, Bahan Kering minimal 86 % dan Protein minimal 9 %
3. Bungkil Kelapa
a. Bungkil kelapa yang baik adalah merupakan hasil samping proses pembuatan minyak kelapa, tidak berjamur dan tidak mengandung organisme lain serta tidak tercemar bahan lain yang mengganggu kesehatan ternak,
b. Warna coklat kehitaman,
c. Mempunyai Aroma : wangi normal khas bau bungkil kelapa.
d. Kemasan : karung goni/kandi plastik berukuran antara kap. 40-80 kg. yang masih baik dan tidak bocor.
e. Kandungan gizi : Protein minimal 20 %, Serat Kasar maksimal 15 %. Bahan Kering minimal 86 %.
4. Pollard
a. Pollard yang baik adalah merupakan kulit dari biji gandum, yaitu bagian dalam yang menempel pada biji, halus tidak cacat dan tidak rusak karena serangan hama serta tidak berjamur dan tidak mengandung organisme lain,
b. Tidak tercemar bahan lain apalagi yang dapat menyebabkan terganggunya kesehatan ternak, kering dan baru kondisi masih baru dan tidak menggumpal.
c. Berwarna putih sampai kecoklatan, merupakan warna asli yang normal.
d. Beraroma wangi normal khas bau pollard yang belum mengalami fermentasi.
e. Kemasan: karung goni/kandi plastic 50 kg. f. Kandungan Gizi : Protein: minimal 15 % Serat Kasar : maksimal 11 %, Bahan Kering = minimal 86 %.
5. Bungkil Kedelai
a. Bungkil yang baik adalah merupakan pecahan kedelai yang berkualitas, merupakan hasil samping proses pembuatan minyak kedelai, tidak berjamur, tidak ada organisme lain, tidak tercemar bahan lain.
b. Bewarna kuning kecoklat-coklatan,
c. Mempunyai aroma : khas bungkil kedelai ,
d. Kemasan : karung goni/kandi plastik yang masih
e. baik/kuat isi 50 kg. Kandungan Gizi : Protein minimal 33 %, Serat Kasar maksimal 10 %, Bahan Kering minimal 86 %.
6. Onggok Kering Giling
a. Onggok yang baik adalah adalah merupakan hasil samping pembuatan tepung tapioka, tidak rusak karena hama, tidak berjamur dan tidak mengandung organisme lain, tidak tercemar bahan lain yang dapat mengganggu kesehatan ternak. kondisi kering
b. Tidak mengembang dan menggumpal.
c. Warna : putih sampai keabu-abuan.
d. Aroma : wangi normal, khas bau onggok yang baik, Kemasan: karung goni/kandi plastik yang masih baik dan isi diseragamkan antara 40 – 60 kg. per karung. Kandungan Gizi : Protein minimal 1 %. Serat Kasar maksimal 11 %, Bahan Kering minimal 79 %.
7. Mineral
Mineral yang baik :adalah produk mineral pakan sapi buatan pabrik.komposisi kandungan didalamnya terdiri dari : Calcium(Ca); Phospor P);Mangaan (Mn); Judium (J); Kalium (K); Cupprum (Cu); Sodium Sa); Ferrum (Fe); Zinkum (Zn); Magnesium (Mg) dan Clorine (C1). Warna : putih sampai keabu-abuan.tidak berbah dari warna aslinya keluaran pabrik , Aroma : normal, khas bau mineral. Kemasan: kantong plastik, asli pabrik kapasitas 25 kg atau 50 kg. yang masih baik dan berlabel komposisi.
Gambar 1. Pengujian mutu pakan
2.3. Persiapan dan Penyimpanan Konsentrat
Persiapan yang dilakukan dalam menangani pakan konsentrat merupakan hal yang harus dilakukan. Karena menyangkut dengan kualitas dan kuantitas pakan serta ketahan bahan pakan dalam penyimpanan. Menurut Candra (2009) hal yang dilakukan antara lain :
a. Sebelum bahan konsentrat datang, gudang harus
b. bersih, kering dan tidak lembab.
c. Peralatan : alat tulis, timbangan, skop, alat pemeriksaan kualitas, kayu tataban atau palet, alat anggkut dll dipersiapkan pada tempatnya.Berikan jarak untuk memisahkan bahan satu dengan yang lain.
d. Ventilasi, lampu dan thermometer ruangan disiapkan, sehingga suhu udara dapat diatur dengan baik.
Sedangkan dalam penyimpanan hal yang harus dilakukan adalah :
1. Cara penyimpanan bahan ke dalam gudang
2. Periksa dahulu kwalitas bahan yang masuk tersebut sesuai spesifikasi teknis
3. Timbang dahulu setiap bahan yang masuk
4. Tumpuk yang rapi diatas palet ditata rapi sehingga mudah dilihat dan menghitung jumlah kantong
5. Tumpukan tidak boleh terlalu tinggi beri jarak dengan atap gudang
6. Tumpukan tidak boleh menempel pada dinding atau pagar berikan jarak atara 10–
15 cm dari tembok.
Gambar 2. Penimbangan Bahan Pakan Konsentrat
2.4. Pembuatan dan distribusi (kekandang) Ransum Konsentrat
Dalam penyampuran dan pembuatan bahan pakan konsentrat, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Persiapan alat
Siapkan sekop, sapu lidi, timbangan, kereta dorong,kantung atau karung.
2. Cara membuat konsentrat
a. Melihat daftar komposisi yang ada
b. Menimbang semua bahan pakan yang akan dicampur sesuai dengan komposisi. Setiap proses jumlah campuran maksimal sesuai dengan kemampuan kapasitas mixer (500 kg).
c. Setelah ditimbang tumpahkan dilantai dekat cerobong masuk mixser
d. Tumpukan dibuat berlapis sesuai dengan urutan bahan yang ada ,untuk bahan yang jumlah komposisi sedikit dituruh pada bagiang tengah.
e. Hidupkan mixser sesuai petunjuk
f. Buka cerobong masuk mixser ,
g. Masukan bahan konsentrat dengan menggunakan sekop kearah vertical seperti memotong bentuk lapis tadi sesuai dengan kapasitas mixser.
h. Setelah bahan masuk sesuai dengan kapasiatas biarkaan bahan tercampur tunggu sampai 5 – 10 menit.
i. Siapkan kantong / karung tepat cerbong keluar mixser
j. Buka pintu cerobong tadi isi samapi penuh k. Timbang satu persatu masing-masing 50 Kg l. Naikan ke kereta dorong tempatkan pada gudang konsentrat
k. Tumpuk satu persatu , untuk tumpukan tidak boleh lebih dari dua tumpuk untuk menghindari kelembaban.
Setelah proses mixing selesai, barulah ransum konsentrat di distribusikan ke kandang-kandang yang ada di areal kandang BBPTU Baturraden. Menurut Candra (2009) ada langkah-langkah yang harus dilakukan dalam proses pendistribusian pakan konsentrat jadi ke kandang. Hal yang perlu dilakukan adalah :
1. Persiapan Alat
a. Mengambil gerobag konsentrat.
b. Bersihkan dari sisa konsentrat yang sudah basi
2. Cara Mengangkut Konsentrat
a. Mengambil dari gudang konsentrat dalam bentuk kantongan atau karungan
b. masukan kantong tadi kedalam gerobag kansentrat .
c. Dorong menuju kandang masing-masing
d. Tumpahkan isi kantong tadi kedalam gerobag saja didalam kandang
3. Cara Memberikan
a. Diberikan dalam bertuk kering.
b. Siapkan ember konsentrat yang ada di dalam kandang.
c. Bak pakan dan minun harus dalam keadaan bersih.
d. Ambil konsentrat dengan ember, tuangkan ke dalam bak pakan.
e. Setelah 15–30 menit amati setiap individu ternak sapi, apabila ada yang tidak habis segera digeser.
4. Waktu Pemberian Pakan Konsentrat
a. Pemberian pagi pukul 06.00 WIB,
b. Pemberian sore pukul 14.00 WIB.
2.5. Manajemen Pemberian Pakan Konsentrat pada Ternak
Sesuai Master Plan BBPTU Sapi Perah Baturraden Petunjuk Pemeliharaan Bibit Sapi Perah 2006, Guna memudahkan petugas, melaksanakan pemberian pakan , maka harus mengetahui manajemen pemberian pakan, berdasarkan siklus biologis sapi perah. dapat dikelompokan dalam tujuh fase berdasarkan umur dan status fisiologisnya, sebagai berikut :
1. Fase Laktasi
2. Fase Kering (bunting)
3. Fase Kolostrum : umur 1 - 5 hari
4. Fase Pedet pra-sapih : umur 6 hari - 3 bulan
5. Fase Pedet lepas sapih : umur 3 - 12 bulan
6. Fase dara siap kawin
7. Pejantan
Dengan mengetahui siklus biologis tersebut diatas, maka diketahui juga kebutuhan pakan, sehingga penyediaan konsentrat dan hijauan pakan ternak dapat diprediksi pemberian pakan sebagai berikut :
2.5.1. Pakan Sapi Perah Dewasa
a. Pemberian Pakan Periode Laktasi
Dalam metode pemberian pakan sapi perah laktasi ada tiga indikator penting yang dapat digunakan sebagai parameter keberhasilannya, yaitu :
(1). Berdasarkan produksi susunya
(2). Berdasarkan kualitas susunya, dan
(3). Berdasarkan kinerja reproduksinya
Langkah-langkah prosedur untuk menyusun ransum sapi perah yang terpenting adalah sebagai berikut :
(1). Estimasikan kebutuhan nutrien untuk sapi (sesuai tabel NRC).
(2). Tentukan kandungan nutrien dari hijauan yang tersedia.
(3). Tentukan intake hijauan.
(4). Hitung nutrien intake yang berasal dari hijauan.
(5). Hitung kebutuhan nutrien yang berasal dari konsentrat.
(6). Seimbangkan kebutuhan energi, protein, calsium, phosphor, dan micronutrient
lainnya dengan reproduksi dan produksi susu.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrien pakan, maka standar yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
(1). Air tersedia secukupnya dalam keadaan bersih, segar.
(2). Serat kasar (berdasarkan Bahan Kering):Minimal mengandung 18-22% SK.
(3). Protein kasar (berdasarkan Bahan Kering).
(a). 16-18% untuk periode awal laktasi atau sapi produksi susu tinggi, dengan
memperhatikan sumber protein yang mempunyai nilai biologi tinggi dan tingkat degraded protein (DP) dalam rumen 75-80%.
(b). 14-16% untuk laktasi lanjut atau sapi produksi susu yang lebih rendah dan
tingkat degraded protein : 80-85%.
(4). Total Digestible Nutrients (TDN) :
(a). 72-74% TDN untuk periode awal laktasi atau sapi produksi susu tinggi.
(b). 64-68% TDN untuk periode laktasi lanjut atau produksi susu yang lebih
rendah.
(5). Konsumsi bahan kering :
(a). Sapi produksi tinggi 3,5-4,0% dari berat badan
(b). Sapi produksi rendah : 2,5-3,0% dari berat badan
Di BBPTU Sapi Perah Baturraden, pada fase ini formula pakan di tetapkan Menjadi 2 formula yaitu F1 untuk ternak yang produksi susunya > dari 15 liter per hari dan F2 yang produksi susunya < 15 liter per hari .
b. Pemberian pakan periode kering
Metode Pemberian Pakan dibagi 2 :
(1) Periode pengeringan :
Pakan yang diberikan hanya hijauan yang berkualitas tinggi, dihindari pemberian legume atau konsentrat guna mencegah terjadinya milk fever atau hypocalcemia pada periode laktasi berikutnya.
(2) Periode pemberian pakan 2-3 minggu sebelum melahirkan
(a) Berikan konsentrat secara bertahap agar sapi setelah melahirkan mampu
mengkonsumsi dalam jumlah yang dibutuhkan tanpa mengalami gangguan
metabolisme.
(b) Strategi pemberian pakan pada periode ini disebut : lead feeding atau challange
feeding yang bertujuan agar sapi dapat melakukan penyesuaian terhadap
feeding yang bertujuan agar sapi dapat melakukan penyesuaian terhadap
pemberian pakan yang dominasi pakannya berenergi tinggi (konsentrat) berbeda
dengan periode kering yang hanya didominasi oleh pakan kaya serat. Penyesuaian
tersebut dimaksudkan agar mikroflora dan mikro-fauna rumen segera dapat
menyesuaikan dengan pakan konsentrat yang jumlahnya akan terus meningkat
menyesuaikan dengan pakan konsentrat yang jumlahnya akan terus meningkat
setelah sapi melahirkan.
2.5.2. Pakan Pedet dan sapi muda
a. Fase Pedet Kolostrum ( 1- 7 hari )
Kolostrum diberikan setelah pedet dilahirkan minimal sampai umur 3 hari. Waktu pemberiannya ½ (setengah) jam atau maksimum 2 (dua) jam setelah pedet dilahirkan Kolostrum diberikan kepada pedet 2 sampai 4 kali sehari dan diberikan secukupnya tahap pemberiannya adalah sebagai berikut :
(1) Hari 1. : 5% dari BB atau sekitar 1.5-2,0 liter/hari
(2) Hari 2. dan 3 : 8-10% dari BB atau 4 liter/hari.
Pemberian kolostrum dapat dengan menggunakan botol (nipple bottle feeding) atau dengan menggunakan ember (nipple pail feeding) yang bersih agar tidak tercemar mikroorganisme patogen. Calf starter merupakan pakan konsentrat dengan formula khusus untuk pedet yang diberikan sejak umur satu minggu sampai umur sapih.
Pakan ini harus disukai pedet, berkualitas dan daya cernanya tinggi. Kandungan energi (TDN) 72-75% atau 11-13 MJ ME//kg BK, Protein Kasar 16-18% (UDP 6% BK), Serat Kasar minimal 7%. Metode Pemberian Pakan pada fase ini adalah sebagai berikut :
(1) Susu diberikan pada hari ke 8 sampai dengan umur 3 bulan dan diberikan 2 kali sehari sesuai dengan jumlah dan waktu pemberian seperti diatur dalam petunjuk teknis.
(2) Susu ditempatkan pada ember yang bersih dan kering.
(3) Umur 2 minggu pedet sudah dilatih untuk makan konsentrat, sedangkan HMT mulai diberikan sedikit demi sedikit mulai umur 1 minggu.
(4) Selanjutnya konsentrat dan HMT diberikan 2 kali sehari dalam jumlah, mutu dan waktu pemberian seperti diatur dalam Petunjuk Teknis..
(5) Konsentrat dan HMT ditempatkan pada tempat yang bersih dan kering.
(6) Disamping konsentrat dan HMT disediakan pula air minum tidak terbatas pada tempat yang bersih pula. Untuk memperoleh sinar matahari yang cukup dan memberikan kesempatan berolahraga (exercise) maka pedet umur 2 minggu mulai dilepaskan di lapangan untuk exercise 3 kali dalam seminggu dan pada awalnya selama 1 jam setiap hari, berangsur angsur menjadi 2 jam setiap hari.
Jumlah pakan diberikan pagi dan sore dengan proporsi pemberian 50:50 seperti tabel 3 dibawah ini. Air harus disediakan secara ad libitum dalam kondisi segar dan bersih. Dilakukan penggantian konsentrat calf starter dengan konsentrat yang kualitasnya lebih rendah, yaitu : PK : 16% dan TDN : 70% dan diberikan 2 kg per hari. Rumput yang berkualitas tinggi diberikan secara bebas, kira-kira 10% mengikuti pertumbuhan sapi dara.
b. Sapi Dara
(1) Fase umur 12 bulan - menjelang kawin
(2) Metode pemberian pakan :
(a) Diberikan rumput kualitas baik sebanyak minimal 10% dari berat badannya
(b) Konsentrat diberikan 1 kg setiap 100 kg berat badan untuk membantu memperbaiki
konsumsi nutrien sebagai akibat masih rendahnya kualitas rumput tropis
(c) Air minum sapi dara bibit diberikan tidak terbatas dan selalu tersedia di dalam bak air
minum.
Sasaran :
(a) Sapi tidak boleh tumbuh terlalu gemuk.
(b) ADG yang disarankan pada periode pertumbuhan ini adalah 0,6-0,7 kg.
(c) Berat badan yang harus dicapai adalah minimal 275-280 kg atau berat yang
direkomendasikan untuk dikawinkan.
c. Fase dara bunting - melahirkan
Metode pemberian pakan :
(1) Untuk menjaga agar pertumbuhan foetus dan induk baik, maka sapi dara diberikan pakan hijauan berkualitas baik dan diberikan konsentrat sebesar 2-3 kg/hari atau 3-4 kg/ hari apabila kualitas hijauan rendah.
(2) Air minum tersedia secara ad libitum dalam kondisi bersih dan segar.
(3) Diharapkan pada akhir kebuntingan BCS mencapai 3,5-4,0 atau mencapai berat badan > 400 kg.
2.5.3, Pakan Sapi Perah Jantan (Bull)
a. Fase pedet – umur 12 bulan
Jumlah ransum yang diberikan sekitar 2,5% bobot badan dengan ransum yang terdiri dari konsentrat 50% (BK) lebih dari total ransum.
b. Fase pejantan muda (12 bulan s/d 36 bulan) Sapi harus mendapatkan exercise yang cukup, karena exercise yang kurang (dan overfeeding) menyebabkan infertilitas, kualitas sperma rendah, kondisi kaki kurang kokoh dan kuat.
(1) Sapi dikelompokkan (10–15 ekor) dalam kandang yang sama berdasarkan kategori umur, ukuran dan bobot badan.
(2) Pada periode umur 12 bulan - 36 bulan, target ADG minimal 0.9 kg/ekor dan disediakan ransum sebanyak 2,0 – 2,25% bobot badan dengan proporsi hijauan meningkat (lebih dari 50%).
(3) Ransum dapat diberikan secara mix antara konsentrat dan hijauan yang telah di cacah terlebih dahulu.
(4) Data bobot badan dicatat secara reguler.
(5) Suplemen mineral (NaCl dan mineral mix) harus selalu tersedia (dalam bentuk blok)
(6) Fase pejantan dewasa (umur > 36 bulan).
(7) Untuk mempertahankan kondisi dan bobot badan yang ideal, sapi pejantan dewasa disediakan ransum 1,5 % - 3,0 % bobot badan. Pemberian konsentrat formula khusus pejantan sebanyak 0,5 kg per 100 kg bobot badan, sedangkan hijauan diberikan secukupnya, sehingga total konsumsi pakan tidak melebihi 3,0% bobot badan (bahan kering) dan sapi tidak (kegemukan).
(8) Suplemen mineral (NaCl dan mineral-mix) harus selalu tersedia (dalam bentuk blok) dan sapi akan mengkonsumsi sesuai kebutuhannya.
(9) Saat ini pemberian pakan pejantan masih menggunakan F2 (produksi < 15 liter).
BAB III
KESIMPULAN
Pakan konsentrat merupakan bahan pakan sumber energy dan sumber protein yang digunakan sebagai pakan suplemen atau bahan pakan pelengkap untuk pakan sapi perah khususnya di BBPTU Baturraden. Pakan konsentrat di Indonesia diberikan karena kandungan hijauan sumber pakan untama ternak sapi perah kurang mencukupi kebutuhan ternak bergenetik luar negeri. Pencapain produksi, baik produksi susu maupun reproduksi sangatlah berpengaruh terhadap digunakanya pakan konsentrat. Dengan di tambah pakan konsentrat, prduksi sapi meningkat. Karena disamping sebagai tambahan energy dan protein, ternyata pakan konsentrat merupakan penyuplai ketersediaan rantai karbon dan sumber N pakan yang sanagat mutlak dibutuhkan oleh mikroba rumen untuk bias bersintesis dan akhirnya bias melakukan perkembangbiakan dan metabolism didalam tubuh sapi akan berjalan dengan lancer. Ketikan metabolism pada tubuh sapi lancer, tubuh yang sehat akan terbebas dari gangguan penyakit metabolic yang sangat mengganggu proses produksi. Dengan kondisi tubuh yang sehat maka performa bias tinggi dan optimal. Karena kaitanya dengan sapi perah maka produksi susu akan meningkkat serta reproduksinya akan meningkat kaitanya dengan proses pembibitan (breeding).
DAFTAR PUSTAKA
Abeni, F., L. Calamari,. L Stefanini, dan C. Pirlo. 2000. Effect of Dailyi Gain in pre and post
pubertal replacement dairy heifers on body condition score, body size, metabolic profile,
and future milk production. Journal Dairy Science Vol 83. Page 1468-1578.
Bath, D.L, F.N Dickinson, H.A Tucker and R.D Appleman. 1985. Dairy Cattle, Practiices,
Problems, Profits. Lea and Febiger Publisher. Philadelphia.
Candra, Sunarko. 2009. Petunjuk Pemeliharaan Bibit Sapi Perah. Departemen Pertanian Dirjen
Peternakan. BBPTU Baturraden. Purwokerto.
Daryanti, Sri. 2002. Respon produksi sapi peranakan ongole terhadap aras pemberian
konsentrat dan pakan basal jerami padi fermentasi. Tesis. Fakultas Peternakan Program
Magister Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang.
Hartadi, H,. S Reksohadiprodjo dan A.D Tillman. 1990. Tabel Komposisi Pakan untuk
Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hartutik. 2005. Strategi manajemen pemberian pakan dalam upaya peningkatan produktivitas
sapi perah rakyat. http://wah1d.wordpress.com/2008/09/04/manajemen-sapi-perah-pada
Tillman, A.D. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar