TUGAS TERSTRUKTUR
MATA KULIAH EVALUASI HASIL TERNAK
PROSEDUR DAN PRINSIP KERJA ANALISIS KIMIA BAHAN PANGAN SECARA PROKSIMAT
Oleh
FADHILA NURLAILI D1E009016
MUHAMAD ALWI D1E009079
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2011
ANALISIS PROKSIMAT
Analisis proksimat pertama kali dikembangkan di Weende Experiment Station Jerman oleh Hennerberg dan Stokmann. Oleh karenanya analisis ini sering juga dikenal dengan analisis WEENDE. Analisis proksimat menggolongkan komponen yang ada pada bahan pakan berdasarkan komposisi kimia dan fungsinya (Tabel 1;Gambar 1), yaitu : air (moisture), abu (ash), protein kasar (crude protein), lemak kasar (ether extract), serat kasar (crude fiber) dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (nitrogen free extract). Analisis proksimat menggo-longkan vitamin berdasarkan kelarutannya. Vitamin yang larut dalam air dimasukkan ke dalam fraksi air, sedang yang larut dalam lemak dimasukkan ke dalam lemak kasar.
Table 1. Fraksi Analisis Proksimat.
Kelebihan analisis proksimat, antara lain: (a). kebanyakan laboratorium menggunakan sistem ini, (b). alat mahal dan canggih kurang dibutuhkan, (c). menghasilkan hasil analisis secara garis besar, (d). dapat menghitung Total Digestible Nutrient (TDN) berdasarkan hasil analisis proksimat dan (e). memberikan penilaian secara umum peman-faatan makanan pa ternak (Suparjo,2010). Disamping kelebihannya, terdapat juga kelemahan analisis proksimat, yaitu: (a). sistem tidak mencerminkan zat makanan secara individu dari bahan makanan, (b). kurang tepat, terutama untuk analisis serat kasar dan lemak kasar, akibatnya untuk kalkulasi BETN juga kurang tepat, (c). proses membutuhkan waktu yang cukup lama (d). tidak dapat menerangkan lebih jauh tentang daya cerna, palatabilitas dan tekstur suatu bahan pakan dan (e). problem utama dari sistem WEENDE adalah untuk serat kasar, ekstrak ether dan BETN
1. Analisis Kadar Air dan Bahan Kering
Prinsip kerjanya adalah menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven dengan suhu 105oc dalam jangka waktu tertentu (3 – 24 jam) hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi. Menurut Darsudi (2008) Prosedur kerjanya adalah :
a. Panaskan cawan porselin kosong dalam tanur pengabuan pada suhu 600 derajat celcius selama 2 jam.
b. Turunkan suhu tanur hingga 110 derajat celcius
c. Angkat cawan porselin dan dinginkan ke dalam desikator selama 30 menit lalu ditimbang.
d. (A) timbang sampel seberat 2 gram. (B) masukan ke dalam cawan porselen (A) kemudian panaskan cawan berisi sampel kedalam oven 110 derajat celcius selama 2 jam.
e. Angkat dan dinginkan ke dalam desikator selama 30 menit, lalu ditimbang (C)
f. Hitung ke dalam rumus
KA = (A+B) – C X 100 %
B
2. Analisis Kadar Abu (ash)
Prinsip kerjanya adalah membakar bahan dalam tanur/tungku (furnace) dengan suhu 600oc selama waktu tertentu (6 – 8 jam) sehinggga seluruh unsur utama pembentuk senyawa organik (c, h, o, n) habis terbakar dan berubah menjadi gas. sisanya adalah abu (berwarna dari putih sampai abu abu) yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral . dengan perka-taan lain bahwa abu adalah total mineral dalam bahan makanan. Menurut Darsudi (2008) prosedur kerjanya adalah sebagai berikut :
a. Panaskan cawan porselin kosong dalam tanur pengabuan suhu 600 derajat celcius selama 2 jam, kemudian turunkan suhu tanur hingga 110 derajat celcius.
b. Angkat cawan porselin kosong dalam tanur, dinginkan dalam desikator selama 30 menit lalu timbang (A).
c. Masukan kedalam cawan porselin berisi sampel dalam tanur suhu 600 derajat celcius selama minimal 3-4 jam, kemudian turunkan suhu tanur menjadi 110 derajat celcius.( C ).
d. Angkat sampel dan dinginkan selama 30 menit didalam desikator dan ditimbang.
e. Hitung dengan rumus
Kadar Abu = ( C-A ) X 100 %
B
3. Analisis Kadar Lemak Kasar
Prinsip kerjanya adalah melarutkan (ekstraksi) lemak yang terdapat dalam bahan dengan pelarut lemak (ether) selama beberapa waktu (3-8 jam). ektraksi menggunakan alat sokhlet. beberapa pelarut yang dapat digunakan adalah kloroform, petroleum benzen, heksana, aseton. lemak yang ter terekstraksi dalam (larut dalam pelarut) akan terakumulasi dalam wadah pelarut (labu sokhlet) kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengan cara dipanaskan dengan oven 105oc. Menurut Darsudi (2008) prosedur kerjanya adalah :
a. Timbang sampel sebanyak 0,5-2 gram (A), dan kemudian masukan ke dalam cawan stainless homogenizer kemudian tambah air sebanyak 0,6 ml aduk secara manual hingga merata,
b. Tambahkan 10 ml methanol dan 20 ml chloroform kemudian diaduk dengan alat homogenizer dengan kecepatan 1500 rpm selama 3 menit.
c. Buka dan tambahkan lagi 10 ml methanol, aduk kembali dengan alat yang sama selama 1 menit.
d. Saring dengan kertas saring top filter paper dan tamping dalam labu terpisah.
e. Hasil saringan ditambahkan 7,5 ml larutan NaCl 0,9 % selanjutnya dikocok hingga homogeny, diamkan hingga terbentuk lapisan sempurna.
f. Pindahkan lapisan bawah (lemak dalam larutan chloroform) tamping dlam botol asah evaporator, uapkan pelarut dengan alat evaporator.
g. Lemak dipindahkan ke dalam botol contoh yang telah diketahui botolnya, (B).
h. Keringkan dengan oven pengering suhu 41 derajat celcius, kemudian diangkat dan didinginkan di desikator selama 30 menit lalu ditimbang.
i. Hitung dengan rumus
Kadar Lemak = ( C-B ) X 100 %
A
4. Analisis Kadar Protein
Prinsip Kerjanya Adalah penetapan nilai protein kasar dilakukan secara tidak langsung, karena analisis ini didasarkan pada penentuan kandungan nitrogen yang terdapat dalam bahan. kandungan nitrogen yang diperoleh dikalikan dengan 6,25 sebagai angka konversi nilai nitrogen menjadi nilai protein. nilai 6,25 diperoleh dari asumsi bahwa protein mengandung 16 % nitrogen ( perbandingan protein:nitrogen = 100:16 = 6,25:1). Menurut Darsudi (2008) prosedur kerja dari analisa kadar protein adalah :
a. Timbang 0,3 gram sampel kering yang sudah dihaluskan (A) masukanlah ke dalam tabung destruksi dan tambahkan 1,5 ml katalisator, 1 ml H2O2 dan 10 ml H2SO4 pekat,
b. Panaskan secara perlahan hingga suhu 425 o C pada unit alat destruksi dalam ruang asam sehingga cairan jernih, kemudian dinginkan.
c. Tambahkan 25 ml aquades seacara perlahan
d. Hubungkan tabung destruksi dengan perangkat alat destilasi, tambah larutan NaOH 40 % secara otomatis. Lakukan destilasi selama 4 menit hingga diperoleh destilat + 125 ml asam borat 4 %.
e. Titrasi dengan larutan HCL 0,2 N hingga warna berubah dari hijau menjadi merah muda atau jingga.
f. Dihitung dengan rumus :
Kadar Nitrogen (%) = Y
Y(%)=14,01xN titranx100x(ml titrasi sampel- ml titrasi blanko)x100 %
Mg Sampel
Kadar Protein (%) = % Nitrogen x angka Faktor
5. Analisis Kadar Serat Kasar
Prinsip kerjanya adalah komponen dalam suatu bahan yangtidak larut dalam pemasakan /perebusan (residu) dengan asam encer dan basa encer selama 30 menit adalah serat kasar dan abu. untuk mendapatkan nilai serat kasar, maka bagian yang tidak larut tersebut (residu) dibakar sesuai prosedur analisis abu. selisih antara residu dengan abu adalah serat kasar. Menurut Darsudi (2008) prosedur kerjanya adalah :
a. Panaskan kertas whatman no 40 dalam oven pada suhu 110 derajat celcius selama 1 jam
b. Angkat dan dinginkan kedalam desikator selama 30 menit lalu ditimbang (A)
c. Timbang sebanyak 2 gram sampel (B). Dieksatraksi lemaknya lalu dipindahkan kedalam becker glass 600 ml.
d. Tambahkan 200 ml larutan H2SO4 1,25 % panas, dipasang didalam alat pereduksi dengan pendingin dibalik dan didihkan selama 30 menit.
e. Suspensi yang diperoleh disaring dengan menggunakan kertas whatman no 41 dan pisahakan kedalam beker glass 600 ml dan tambahkan larutan NaOH 1,25 % panas. Pasang kembali alat destruksi dengan pendingin terbalik, didihkan kembali selama 30 menit.
f. Suspensi yang diperoleh kembali disaring dengan kertas whatman no 40 yang telah di oven dan telah diketahui bobotnya (A).
g. Bilas dengan akuades panas hingga netral, dicuci dengan larutan K2SO4 10 % sebanyak 50 ml.
h. Bilas kembali dengan akuades panas hingga netral kembali dan disiram alcohol 95 % 15 ml.
i. Keringkan kertas residu berisi serat panaskan ke dalam oven pada suhu 110 derajat celcius selama 2 jam minimal.
j. Angkat dan dinginkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang ( C ).
k. Perhitungan :
Kadar Serat (%) = ( C-A ) x 100 %
B
Dibawah ini merupakan contoh bahan pangan daging sapi yang di uji kimia nya dengan menggunakan analisis proksimat. Penelitian Brahmantyo (2000) menyajikan data analisis :
REFERENSI
Brahmantyo , Bram . 2000. Sifat Fisik dan Kimia Daging Sapi Brahman Cross, Angus dan Murrat Grey. Media Veteriner Vol 7. No 2. Hlm 9-11.
Darsudi, Put Ni Ari,. Ni putu Ayu. 2008. Analisis Kandungan Proksimat Bahan Baku dan Pakan Buatan/pellet untuk kepiting Bakau ( Scylla Paramamosain ). Buletin Teknik Litbang Akuakultur Vol 7. No. 1 Tahun 2008. Hlm 41-45.
Suparjo. 2010. Analisis Bahan Pakan secara Kimiawi : Analisis Proksimat dan Analisis Serat. Laboratorium Makanan ternak Fakultas peternakan Universitas Jambi. Jambi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar